Dinamika Seni Harry Roesli

Published on June 26th, 2013

Harry Roesli adalah sosok seniman serba bisa yang telah berkontribusi besar terhadap perberdayaan anak muda dan anak-anak jalanan khususnya di Bandung lewat Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB). Harry Roesly memiliki nama lengkap Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli, lahir di Bandung pada 10 September  1951 merupakan cucu pujangga besar Marah Roesli. Pria berdarah Minangkabau ini juga merupakan tokoh seniman yang turut melahirkan budaya musik kontemporer yang berbeda, komunikatif dan konsisten dalam memancarkan kritik sosial. Dengan penampilan yang eksentrik dengan kostum serba hitam, berkumis, bercambang, dan berambut gondrong membuat sosoknya mudah dikenali. Namanya mulai mencuat ketika membentuk kelompok musik Gang of Harry Roesli bersama Albert Warnerin, Indra Rivai dan Iwan A Rachman pada awal 1970-an yang hanya bertahan sekitar 5 tahun. Disela-sela kesibukannya bermusik, dia juga mendirikan kelompok teater Ken Arok, pada 1973. Setelah Harry mendapat beasiswa dari Ministerie Cultuur, Recreatie en Maatschapelijk Werk (CRM) untuk belajar ke Rotterdam Conservatorium, Belanda kelompok teater tersebut bubar. Gelar Doktor Musik diraihnya pada tahun 1981, tetapi tak membuatnya melemah dalam berkarya.
Dia justru terus berkreasi melahirkan karya-karya musik dan teater, juga aktif mengajar di Jurusan Seni Musik di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Pasundan Bandung. Dia ini juga kerap membuat aransemen musik untuk teater, sinetron dan film, di antaranya untuk kelompok Teater Mandiri dan Teater Koma. Juga menjadi pembicara dalam seminar-seminar di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri, serta aktif menulis di berbagai media, salah satunya sebagai kolumnis Kompas. Kini Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) yang didirikannya tetap berdiri kokoh dan terus membina para seniman jalanan dan kaum pemulung di Bandung. Semangat perlawanannya lewat seni pernah menyeretnya diperiksa Polda Metro Jaya karena memelesetkan lagu wajib Garuda Pancasila di era pemerintahan Megawati. Harry Roesli meninggal dunia pada 11 Desember 2004 dengan meninggalkan berbagai karya yaitu, album musik Philosophy Gang (1971), Titik Api( 1976), Musik Rumah Sakit (1979 di Bandung dan 1980 di Jakarta), Musik Sikat Gigi (1982 di Jakarta), Opera Tusuk gigi (1997 di Bandung) dan masih banyak lagi.