Untuk ke-4 kalinya South to South Film Festival (StoS) kembali digelar pada 23-26 Febuari 2012. StoS yang merupakan festival film lingkungan 2 tahunan, hadir sebagai gerakan penyadaran dan oenggalangan solidaritas lewat film dan media visual, dengan melibatkan masyarakat kota dan jejaring global, untuk memberikan dukungan, kepedulian dan kontribusi kepada masyarakat di kawasan yang selama ini menjadi korban eksplorasi yang merusak, hingga menyengsarakan ekologi dan masyarakat yang tinggal di sekitar.
Dan untuk kali ini StoS mengangkat sebuah tema “Semangat Tampa Batas”, yang diambil dari sebuah cerita masyarakat kita atas perjuangan tak pernah berhenti. Masyarakat adat Mollo, merupakan suku di kecamatan Nausus, Kabupaten Timor Tengah Selatan di NTT yang menjadi ikon dan simbol dari “Semangat Tampa Batas” tersebut.
Dan StoS Film Festival dibuka pada rabu kemaren (22/2) di Goethe Institute, Menteng, Jakarta. Secara keseluruhan StoS ini akan memutar sebanyak 33 film dokumenter dan fiksi dan sebuah pameran tentang perjuangan masyarakat Mollo yang memperjuangkan kearifan lokalnya dan memilih mempertahankan lingkungan, pangan lokal dan tenunya, dari kegiatan eksplorasi lingkungan di daerah mereka.
Dalam pembukaan kemaren yang cukup ramai dihadiri oleh para komunitas pencinta film, menampilkan sosok pejuang masyarakat adat Mollo, Mama Aleta Baun yang membacakan sebuah puisi bersama dengan Ine Febriyanti, sosok perempuan modern yang peduli akan lingkungan dan budaya Indonesia.
Tak lupa dalam pembukaan Film Festival ini, pastinya memutarkan sebuah film yaitu “pulih Indonesia”, sebuah film animasi stop motion yang akan bercerita kepada kita mengenai kerusakan lingkungan yang kita sebabkan. Dalam film berdurasi 4 menit ini kita diajak untuk berbenah diri atas apa yang telah kita lakukan kepada lingkungan kita. Dan film selanjutnya merupakan karya Salahudin Siregar berjudul ” Negeri Dibawah Kabut”, film dokomenter yang menceritakan perjuangan sebuah komunitas petani menghadapin perubahantampa mengerti alasannya. Dimana petani tersebut telah terbiasa dengan penggunaan kalendar tradisonal jawa dalam membaca musim. Dan film ini membawa kita melihat lebih dekat bagaimana perubahan musim, pendidikan dan kemiskinan saling berkaitan satu sama lainya.
So, South to South Film Festival tidak hanya sebuah film belaka melainkan banyak terdapat pesan-pesan yang disampaikan kepada kita agar menjaga lingkungan setidaknya disekitar kita. Dan masih banyak film yang akan diputar hingga tanggal 26 Febuari nanti, datang ke acara ini diwaktu senggang tidahlah rugi. (Harditya P)


