Tiga dari 12 fashion show yang digelar sepanjang hari ini menampilkan koleksi busana dari desainer-desainer muda Jerman alumni Berlin Fashion Week – kerja sama Goethe Institut dan Jakarta Fashion Ween – yang akan meluncurkan koleksi terbaru masing-masing. Meski mereka berbasis di Berlin, latar belakang budaya mereka yang beragam menjanjikan suguhan perspektif yang variatif dan menyegarkan.
Issever Bahri membuka rangkaian fashion show hari ini di panggung Promenade. Dua desainer di balik label ini, Derya Issever yang berlatar belakang Turki/Jerman dan Cimen Bahri dari Yunani, membentuk filosofi yang secara estetika terlihat sangat minimalis, namun memiliki desain klasik elegan. Kecermatan produksi mereka jelas terlihat pada sweater sulam dari strip kulit tipis – teknik kerajinan tangan yang kemudian dikenal sebagai ciri khas label ini.
Masih di panggung Promenade, Hien Le yang dilahirkan di Laos, namun sempat mengamati mode dari berbagai sudut pandang, seperti Marie Claire Prancis dan Veronique Branquinho di Antwerp, sebelum akhirnya memutuskan tinggal di Berlin, mengusung minimalisme dalam desain, memprioritaskan pemotongan pola dan aplikasi detail yang tak kasat mata. Keseluruhan koleksi desainer ini diproduksi di Berlin untuk memastikan presisi dan konsistensi kualitas.
Sementara itu, tiga label asal Jerman, yaitu Boessert/Schorn, Star Styling dan MOON Berlin, akan menyemarakkan panggung Fashion Tent. Boessert/Schorn dikepalai Sonia Boessert dan dikenal dengan kreasi rajutan kreatif, yang terinspirasi benda-benda tua dan kostum tradisional. Koleksi yang melankolis, namun tetap modern. Star Styling didirikan Katja Schlegel dan Kai Seifried pada 2000 dan populer di kalangan K-Pop. Label ini sinonim dengan jiwa bebas, tabrak warna dan permainan grafis dinamis. Duo Brigitte Franken dan Christian Bruns di belakang label MOON Berlin mensimbiosiskan teknologi dan mode dengan menyisipkan bohlam LED di antara kain dan lapisan lining sehingga busana bersiluet minimalis dan berwarna monokrom itu menjadi “bersinar”.
Label TingTing tahun ini berbagi panggung Promenade dengan Loushkii. TingTing yang didirikan Agustina SB pada 2010 mengusung simplisitas dalam garis rancangannya, tanpa mengorbankan sensualitas, dengan elemen warna pop art yang merupakan ciri khasnya. Sedangkan Loushkii yang didirikan pada 2007 oleh Dian Adriani Jusuf terinspirasi observasi tren terkini yang diambil dari street style dan desain vintage.
Tiga fashion show berikutnya dimeriahkan para perancang Asosiasi Pengusaha dan Perancang Mode Indonesia (APPMI). Sesi pertama menampilkan karya sembilan perancang, yaitu Harry Ibrahim, Susan Zhuang, Malik Moestaram, Misan, Jimmy Fei-Fei, Grace Fenny, jazz Pasay, Padmo Gardjito dan Adhyadma, dengan koleksi gaun cocktail yang glamor dan elegan. Malik Moestaram menampilkan koleksinya yang bertema Urban Futura, terinspirasi dari kegiatan wanita yang hidup di kota dengan ritme hidup sangat tinggi dan dikelilingi oleh teknologi serta segala sesuatu yang serba cepat. Adapun Jazz Pasay mengambil tema Mambo Girls, terinspirasi dari film Black Swan dan Red Riding Hood, serta busana penari balet dengan warna cerah, seperti merah, kuning, hijau. Sedangkan koleksi Landak Treasure dari Adhyadma menampilkan cocktail wear dari tenun khas Kabupaten Landak di Kalimantan Barat.
Sesi APPMI selanjutnya diisi fashion show tiga perancang, yaitu Sofie, Defrico Audy dan Ian Adrian, yang dikenal sebagai sedainer dengan pola piker dan pendekatan estetika tidak biasa. Bertema Trans Culture, Sofie, yang juga mengembangkan lini Sofie Kids, menampilkan koleksi baju anak dan dewasa dari kain Ulap Doyo yang penuh warna-warni ceria. Ian Adrian yang terinspirasi kejayaan music rock era 1970-an menyajikan koleksi bertema Glam Rock, sementara Defrico Audy mengambil tema The Aristocrate, terinspirasi cara berbusana raja-raja Kutai masa lalu hingga dipengaruhi gaya busana Belanda.
Sesi APPMI hari ini ditutup dengan fashion show yang menggabungkan Hengki Kawilarang, Vicky Soetono dan Rebecca Ing dalam satu panggung. Mengambil judul Sunfketiquette, Hengki Kawilarang menampilkan ragam songket Sumatra Barat dalam busana couture dan modern. Vicky Soetomo, yang mengambil tema Marching in the Line, menampilkan koleksi yang terinspirasi gaya mayoret dalam kelompok marching band. Dan Rebecca Ing menuangkan imajinasi liarnya dalam koleksi bertema Imagination, dengan warna-warna nude, hitam, navy dan emerald green.
Di area Promenade, Pacific Place Mall menggelar fashion show yang tak kalah menarik dari MANGO. Brand Spanyol itu menyuguhkan koleksi Fall dan Winter yang memadukan elemen
maskulin dan feminin, dan dituangkan dalam daytime look dan evening wear. Chic & classic diwarnai sentuhan sequin, lace, tweed dan shiny fabric. Warna hitam dan putih berpadu kontras dengan merah, emas dan sentuhan animal print.
Angie Blaire, desainer di balik label Blaire, menampilkan gaun-gaun pesta bersiluet klasik dan elegan, namun tetap berjiwa masa kini. Aplikasi detail dan ornamentasi dibubuhkan secukupnya untuk menghadirkan kemewahan yang tak terlupakan, tanpa menimbulkan kesan berlebihan.
Diagramma 2011 memperkenalkan Anda kepada dua desainer pendatang baru, yaitu Soko Wiyanto dan Yogie Pratama, yang memiliki garis desain sarat glamor dan extravaganza. Soko yang lulusan Arva School of Fashion Surabaya dan La Salle Jakarta menghadirkan koleksi bergaya futuristik dari lini utamanya, Soko Wiyanto. Sedangkan Yogie, alumsi ESMOD Jakarta dan Ecole de la Chambre Syndicale de la Couture Parisienne menampilkan koleksi berciri klasik dan elegan dengan sentuhan era ’50-an.
Josephine Werratie Komara, atau yang lebih akrab dikenal Obin, menghidupkan kembali kebudayaan dan tradisi kebaya motif di panggung Fashion Tent, dalam signature event majalah Pesona dan BINhouse, A Catwalk Moment. Akan tampil 48 set busana yang terdiri dari empat sekuen, dengan beragam kombinasi warna dan materi. Sutra produksi BINhouse sendiri mendominasi setiap kreasi, dengan teknik pembuatan kain yang menggunakan pintalan khusus, ikat, inovasi lilitan baru, lipat jahitan, tritik, kain cabik-cabik cut work, white on white, batik dengan pecah pola. Desain kain juga penuh ragam, antara lain Tanah Jawa terkoyak oleh gempa, ubur-ubur, klasik, tambalan gembel, lurik, keriput, parang liris, serta anemon.
CENTRO Lifestyle Department Store tak mau ketinggalan menggelar fashion show bertemakan Urban City Look. Rangkaian baju two-pieces dan dress, yang dipercantik dengan pemakaian aksesori, akan dibagi menjadi tiga sekuens, yang masing-masing bernuansa merah, gold dan black & silver. Sepatu dari label Yongky Komaladi turut memperindah kaki para model.


