Negara selatan, seperti halnya negara dunia ketiga pada umumnya, termasuk Indonesia, dikenal sebagai negara yang kaya dengan keanekaragaman hayati, tetapi paling sering tereksploitasi guna memenuhi konsumsi masyarakat yang ada di negara-negara utara. Ketimpangan dan eksploitasi kehidupan “Selatan” oleh “Utara” sesungguhnya juga terjadi dalam bentuk hubungan ketimpangan “Desa” dan “Kota”, yang kadang tidak pernah disadari oleh masyarakat urban di perkotaan. Karena itulah, StoS Film Festival selalu hadir dan mencoba membuka “ruang dialog” untuk memfasilitasi pemahaman masyarakat perkotaan dengan apa yang dialami oleh warga pedesaan – kawasan-kawasan yang dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan hidup warga kota. Film-film kelas festival ini tidak akan membuat Anda merasa digurui, melainkan diingatkan bahwa apa yang kita lakukan juga bisa berakibat pada kehidupan masyarakat lainnya di belahan daerah/negara lainnya.
Inti keseluruhan dari setiap pesan StoS Film Festival adalah bagaimana membangun kepedulian dan solidaritas antara satu komunitas daerah/ negara lainnya dengan komunitas di belahan daerah/ negara lainnya. Ada lesson and learned menginspirasi sebuah hidup yang menanamkan kepedulian terhadap sesama dan alam lebih banyak lagi.
South to South (StoS) Film Festival kembali digelar guna mendorong kesadaran publik tentang isu-isu lingkungan hidup dari prespektif sosial, politik, ekonomi dan budaya dalam sebuah kemasan film festival yang bermutu. Tema-tema yang diangkat di festival 2 tahunan ini pun cukup menarik; Dibalik Kemilau Emas (2006), Vote for Life (2008), We are connected (2010), dan Semangat Tanpa Batas (2012).
Untuk kali ke-empatnya, festival film ini akan berlangsung mulai 22-26 Februari 2012 mendatang. StoS Film Festival kali ini akan menayangkan 33 film dokumenter dan fiksi, juga pameran tentang masyarakat Mollo yang berhasil memperjuangkan kearifan lokalnya dengan memilih untuk mempertahankan lingkungan alam. Pemutaran akan dilakukan di beberapa lokasi, seperti Goethe Institute, KineForum-Taman Ismail Marzuki, dan IFI (dulu: CCF) di Jakarta. [heriko]


